👾Communication Style👾

Communication Style


Understanding Your Communication style

    Gaya komunikasi merupakan jendela untuk  memahami bagaimana dunia memandang  seseorang sepenuhnya sebagai suatu kepribadian  unik, hal ini mempengaruhi hubungan seseorang baik dalam karir dan kesejahteraan emosional. Gaya komunikasi yang dimiliki oleh setiap individu pasti berbeda-beda, sehingga penting untuk memahami gaya komunikasi seperti apa yang kita miliki dan gaya komunikasi apa yang lawan bicara kita miliki agar dapat mengetahui kemungkinan reaksi lawan bicara tentang sesuatu dan meminimalisir adanya kesalahpahaman atau konflik. 

Types of Communication Styles

    Menurut Tubbs & Moss ada 6 macam gaya komunikasi, diantaranya:

👉 The Controlling Style
    Bersifat mengendalikan  dan ditandai dengan adanya satu kehendak atau maksud untuk membatasi, memaksa, mengatur perilaku, pikiran, dan tanggapan orang lain, dikenal dengan nama komunikasi satu arah dan lebih memusatkan perhatian pada pengiriman pesan. Mereka tidak memiliki ketertarikan dan perhatian pada umpan balik kecuali jika hal tersebut berguna bagi kepentingan pribadi mereka, mereka juga tidak khawatir dengan adanya pandangan negative orang lain, tetapi justru berusaha menggunakan kekuasaannya untuk memaksa orang lain mematuhi pandangannya.

👉 The Equallitarian Style
    Aspek penting dari gaya ini adalah adanya landasan kesamaan dan ditandai dengan berlakunya arus penyebaran pesan-pesan verbal lisan maupun tulisan yang bersifat dua arah (Two Way Traffic Of Communication). Komunikasi dilakukan secara terbuka, rileks, santai, dan informal. Orang-orang yang  menggunakan gaya ini memiliki sikap kepedulian yang tinggi serta kemampuan membina hubungan baik dengan orang lain, baik dalam konteks pribadi maupun dalam bekerja. Gaya komunikasi ini akan memudahkan tindak komunikasi dalam organisasi karena efektif dalam memelihara empati dan kerja sama khususnya dalam pengambilan keputusan. 

👉 The Structuring style
    Gaya komunikasi ini memanfaatkan pesan-pesan verbal (lisan maupun tulisan) untuk memanfaatkan  perintah yang harus dilaksanakan, penjadwalan tugas dan pekerjaan serta struktur organisasi. Pengirim pesan lebih memberi perhatian kepada keinginan untuk mempengaruhi orang lain dengan jalan berbagi informasi tentang tujuan organisasi, jadwal kerja, aturan, dan prosedur yang berlaku di dalam organsasi tersebut. 

👉 The Dynamic Style
    Gaya komunikasi ini memiliki kecenderungan agresif karena pengirim pesan memahami bahwa lingkungan pekerjaannya berorientasi pada tindakan. Gaya komunikasi ini sering dipakai oleh juru kampanye ataupun supervisor dan bertujuan untuk menstimuli atau merangsang para karyawan agar bekerja lebih cepat dan lebih baik serta cukup efektif jika digunakan dalam mengatasi persoalan yang  bersifat kritis.

👉 The Relinguishing Style
    Gaya komunikasi ini lebih mencerminkan kesediaan untuk menerima saran, dan pendapat atau gagasan orang lain daripada keinginan untuk memberi perintah meskipun pengirim pesan mempunyai hak  untuk memerintah atau mengontrol. Gaya komunikasi ini akan efektif apabila pengirim pesan sedang bekerja sama dengan orang yang berpengetahuan luas, berpengalaman, teliti serta bersedia untuk bertanggung jawab atas semua pekerjan yang dibebankan. 

👉 The Withdrawal Style
    Gaya komunikasi ini dapat mengakibatkan melemahnya tindak komunikasi, artinya tidak ada keinginan dari orang-orang yang memakai gaya komunikasi ini dengan orang lain, karena ada beberapa persoalan atau kesulitan antar pribadi yang dihadapi oleh orang-orang tersebut. Ketika seseorang mengatakan “Saya tidak ingin  dilibatkan dalam persoalan ini” bermakna  melepaskan diri dari tanggung jawab, tapi juga mengindikasikan keinginan untuk menghindari komunikasi dengan orang lain.


Analisis Gaya Komunikasi Pada Kasus Tasyi Athasyia Dengan Mantan Pegawainya

    Menurut analisis saya, gaya komunikasi yang dimiliki Tasyi Athasyia terhadap mantan pegawainya adalah The Controlling Style. Gaya komunikasi ini bersifat mengendalikan dan ditandai dengan adanya satu kehendak atau maksud untuk membatasi, memaksa, mengatur perilaku, pikiran, dan tanggapan orang lain dan dengan berusaha menggunakan kekuasaannya untuk memaksa orang lain mematuhi pandangannya. Selaku pemimpin atau atasan, Tasyi mengontrol atau mengendalikan para pegawainya untuk mengikuti perintah yang diberikan oleh dirinya. Namun, dengan gaya komunikasi ini Tasyi menyalahgunakan dan melewati batas yang seharusnya denga memperlakukan mantan pegawainya atau pegawai-pegawai yang bekerja dengannya dengan seenaknya. 

Gaya Komunikasi Yang Dimiliki

    Dalam menjalankan aktivitas keseharian, saya pernah menggunakan The Equallitarian Style atau komunikasi yang dilakukan itu secara terbuka, rileks, santai, dan informal serta memiliki sikap kepedulian yang tinggi serta kemampuan membina hubungan baik dengan orang lain sehingga suasana diskusi terasa nyaman, lalu The Dynamic Style atau kecenderungan agresif karena komunikator memahami bahwa lingkungan pekerjaannya berorientasi pada tindakan dan saya menggunakan ini ketika sedang bekerja dengan kelompok yang menurut saya mereka harus diberi motivasi atau dorongan agar bekerja lebih efektif, kemudian The Relinguishing Style atau kesediaan untuk menerima saran, dan pendapat orang lain daripada keinginan untuk memberi perintah meskipun mempunyai hak untuk memerintah, dan The Withdrawal Style atau tidak ada keinginan untuk menghindari komunikasi dengan orang lain

    Namun, dari semua gaya komunikasi tersebut, saya paling dominan dan lebih sering menggunakan gaya komunikasi The Relinguishing Style, karena saya lebih nyaman untuk mendengarkan, menerima saran, dan menjadi pihak yang terima jadi dalam merencanakan sesuatu atau saat berdiskusi walaupun saya sangat bisa dan memiliki hak untuk memberikan perintah atau yang mengontrol. 








Comments

Popular Posts